BERITA - teknologi.infogue.com -
Pekan ini Indonesia kedatangan tamu penting dari dunia internet. Dia adalah orang di balik browser atau peramban yang paling familiar bagi orang Indonesia.
Peramban ini dengan mudah kita jumpai di komputer-komputer rumahan, mungkin laptop Anda, hingga di komputer-komputer PC di warung internet (warnet), yakni Mozilla Firefox, browser kedua terbesar yang terus menggerogoti dominasi Micrsoft Internet Explorer di dunia peramban.
Ini bukan kali pertama, Mitchell Baker, Chairperson Mozilla Corporation sekaligus Mozilla Foundation, itu datang ke Indonesia. Tapi, kali ini kedatangannya ke Jakarta merupakan momentum yang sangat penting, mengingat Indonesia kini adalah negara pengguna Mozilla Firefox nomor satu di dunia.
Walau cuma sehari di Indonesia, ia terlihat antusias untuk bertemu dengan komunitas Mozilla di Indonesia, di BlitzMegaplex Pacific Place di Jakarta, Senin malam, 26 September lalu. Siangnya, tim VIVAnews sempat mewawancari wanita 53 tahun ini di Hotel Midplaza Intercontinental Jakarta.
Kepada Indra Darmawan dan Muhammad Chandrataruna ia berbicara banyak hal. Mulai dari keberhasilan Firefox memecahkan kontrol penuh Microsoft di dunia peramban, pemecahkan masalah inovasi di tubuh Mozilla, kompetisi dengan Google Chrome dan browser lain, konsep ponsel Seabird, hingga pandangannya mengenai browser masa depan. Berikut kutipannya:
VIVAnews: Mozilla saat ini merupakan browser yang paling populer di Indonesia. Apa yang kira-kira yang membuat orang Indonesia menyukai browser ini? Mitchell Baker: Seharusnya Anda yang menjelaskan kepada saya (tertawa). Saya pikir ada tiga faktor. Yang pertama Mozilla dan Firefox merupakan wadah yang memiliki komunitas yang aktif, karena kami adalah organisasi non-profit yang berusaha untuk membangun internet yang lebih baik.
Kita tidak mencari pendapatan, tapi kami berusaha untuk membangun komunitas yang tertarik untuk mewujudkan internet yang bisa dipercaya, kompetitif, dan baik.
Dan ketika kami bertemu dengan orang-orang seperti Viking (Viking Karwur adalah Head of Mozilla Community di Indonesia - red), yang memiliki banyak resource dan energi, kami mencoba untuk mendukung mereka dan komunitasnya.
Jadi kami memiliki perbedaan dengan perusahaan komersiil yang mencari keuntungan, karena aktivitas kami didasari dengan kesamaan ketertarikan, energi, ini membuat kami bisa mewujudkan tujuan yang mungkin awalnya terasa mustahil.
Selain itu, kami juga memiliki komunitas yang aktif, dan komunitas ini sudah berdiri sejak awal-awal internet masuk ke Indonesia. Mereka banyak menyebarkan informasi dari mulut ke mulut (word of mouth) kepada para pengguna internet awal lainnya, jadi ini tak lepas dari peran komunitas lokal. Ini merupakan cara yang efektif bagi kami, karena kami pun sebenarnya tidak terlalu mengetahui pasar di sini.
Yang kedua adalah karena produk kami memang bagus. Karena browser kami sangat mudah untuk dikustomisasi (customizable). Indonesia adalah bahasa yang sangat penting bagi kami.
Dengan melakukan lokalisasi, penerjemahan bahasa, kami ingin pengguna menjadi seperti warga negara kelas satu di web. Kini kami telah mengapalkan begitu banyak bahasa, sekitar 72 bahasa, yang didukung oleh komunitas-komunitas lokal termasuk di Indonesia.
Apakah berarti Anda juga tertarik membuat versi dialek dari berbagai bahasa yang ada di Indonesia, seperti misalnya Google menyediakan bahasa Jawa pada mesin pencarinya? Untuk bahasa tambahan, bahasa dialek, kami sekali lagi ingin agar orang-orang dari bahasa tersebut bisa bergabung untuk bekerja bersama kami dan mendukung untuk menyediakan versi bahasa mereka.
Jadi, bisa saja itu terjadi, saya akan kembali bertanya kepada Viking, apa rencana komunitas di sini, dan apa yang mungkin bisa dilakukan di sini. Kami sepertinya tidak akan melakukan apa yang dilakukan perusahaan lain seperti membuka kantor di sini, merekrut orang-orang untuk mengerjakannya secara tradisional.
Saya juga sangat tertarik untuk memperluas jangkauan komunitas lokal Mozilla di sini, dan meningkatkan interaksi mereka dengan produk kami. Itu mungkin yang bisa langsung kita lakukan daripada membuat berbagai macam dialek yang berbeda.
Jadi kami berharap komunitas Mozilla di sini akan lebih aktif dan akan lebih memberdayakan diri untuk membangun dan membuat perubahan pada internet.
Berapa banyak tepatnya jumlah pengguna browser Firefox di Indonesia? Mitchell Baker:Jutaan. Jadi ada dua jenis pengguna Firefox di Indonesia, yakni yang menggunakan Firefox versi bahasa Inggris dan versi bahasa Indonesia.
Viking Karwur: Berdasarkan statistik terakhir yang kami terima, pengguna Firefox bahasa Inggris ada lebih dari 60 persen sementara pengguna versi Indonesia justru lebih sedikit. Ini unik, karena banyak pengguna asal Indonesia malah bingung bila menggunakan versi bahasa Indonesia.
Pengguna Firefox Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Sekitar 65-75 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan Mozilla versi desktop. Bila dikombinasikan dengan data pengguna internet Indonesia versi APJII, berarti setidaknya 21 juta pengguna Firefox Indonesia, dari total 400 juta pengguna Firefox di seluruh dunia. Sekitar 80 persen pengguna Indonesia menggunakan Firefox versi Inggris dan hanya 16 persen yang menggunakan versi Bahasa Indonesia. Sementara itu tercatat ada sekitar 20 plugin Firefox hasil besutan pengembang asal Indonesia.
Apa yang membuat Anda merasa penting untuk hadir dalam pertemuan komunitas di sini? Mitchell Baker: Saya ingin sedikit mengingat ke belakang. Apa yang sangat saya hargai dari Mozilla adalah kami membangun Firefox dengan sebuah software yang baik, dan kami selalu berusaha membuatnya agar pengguna bisa merasakan pengalaman internet yang lebih baik.
Tapi kami juga membangun mekanisme untuk mencapai beberapa tujuan lain. Salah satunya adalah bagaimana membangun internet menjadi tempat yang bisa dipercaya, aman, internasional. Tujuan lainnya adalah dengan membuat organisasi untuk orang-orang yang ingin memberikan sumbangsihnya kepada orang lain.
Memang tak ada salahnya untuk menikmati produk yang baik dan memakainya. Namun banyak di antara kita yang merasa tidak cukup hanya itu, dan ingin melakukan sesuatu hal yang berbeda, atau ingin memberikan pengaruh bagi orang lain, menentukan apa yang mungkin penting bagi orang lain.
Firefox dan Mozilla adalah tempat di mana orang-orang seperti ini dapat berkumpul, dan kami mencoba menyediakan mekanisme dukungan bagi orang-orang yang ingin menolong orang lain, kami memiliki struktur untuk melakukan hal itu. Dan ketika saya berkesempatan untuk bertemu dengan orang-orang tersebut, adalah sesuatu hal yang sangat menyenangkan.
Memang menyenangkan bertemu dengan orang-orang yang menyukai Firefox, namun akan lebih sangat menyenangkan lagi bertemu dengan orang-orang yang terlibat dalam pengembangannya. Di sana kami bisa saling berbagi.
Karena kami lembaga non-profit, dan kami adalah proyek open source, kami selalu saling berbagi mengenai hasil kerja kami, kami selalu menganggap bahwa Firefox adalah produk milik publik, sebagai bagian dari infrastruktur internet publik.
Mitchell Baker awalnya adalah karyawan Netscape, menjabat sebagai Associate General Counsel for Netscape Communications Corporation. Ia termasuk orang pertama yang terlibat dalam proyek Mozilla, sebuah proyek Netscape untuk membuka kode program browser Netscape Communicator 4.0 untuk di-open source-kan. Dialah yang merumuskan lisensi open source Mozilla Public License.Ia menjabat sebagai Chief Lizard Wrangler (General Manager) pada Proyek Mozilla sejak 1999. Namun pada 2001 AOL mengakuisisi Netscape dan AOL memecatnya. Namun ia tetap meneruskan Proyek Mozilla sebagai seorang sukarelawan. Pada 2003, ia mendirikan dan menjadi President Mozilla Foundation, sebuah organisasi non-profit yang didedikasikan untuk keterbukaan dan inovasi Internet.
Sebagai tokoh yang selalu mengkampanyekan keterbukaan internet, dan bertanggung jawab memotivasi, mengorganisir karyawan maupun para sukarelawan yang mengembangkan Firefox sebagai proyek open source, ia terpilih sebagai salah satu tokoh Top 100 Scientists and Thinkers versi majalah TIME. Belum lama ini, itu juga menyabet penghargaan Growth, Innovation & Leadership (GIL) Award 2010, dari Frost & Sullivan.----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda terlibat dalam Mozilla sejak awal. Apakah Anda merasa perkembangan Mozilla sudah di jalur yang benar? Sudah pasti. Saya bisa bilang bahwa pertama kali semua orang bilang bahwa Mozilla adalah proyek yang mustahil, tapi ternyata kami menang. Dan itu yang membawa kami menjadi seperti sekarang ini.
Bila Anda ingat sebelum adanya Firefox, hanya ada satu browser yang sangat memprihatinkan (Internet Explorer-red), browser yang sangat-sangat berbahaya dan memprihatinkan. Dengan 99 persen pangsa pasar, mereka tak melakukan pengembangan, stagnan.
Saat itu semua merasa bahwa itu tak akan bisa dirubah. Karena Microsoft memiliki kontrol yang sangat penuh, dengan distribusinya melalui Windows. Tapi kami bisa merubahnya! Sekarang semua tahu bahwa browser adalah alat yang menentukan.
400 juta orang (penggunaLihat Sumbernya
Mozilla Firefox, peramban (browser) populer di Indonesia, muncul di pasar pada 2004 untuk menantang dominasi Microsoft dengan Internet Explorer-nya. Pendiri dan Ketua Mozilla Mitchell Baker datang ke Jakarta, pada Senin, 27 September 2010 lalu. Seperti di
Menurut Mitchell Baker, pendiri sekaligus Chairperson of the Mozilla Corporation, lebih dari 70 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan browser Firefox.
Jika dibandingkan dengan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (AP
Mozilla mengumumkan pergeseran tampuk kepemimpinan di perusahaannya. Chief Executive Officer (CEO) Mozilla John Lily, akan turun tahta dan digantikan oleh Gary Kovacs.
Dikutip dari Cnet, Jumat (15/10/2010), Kovacs memiliki resume mengesanka
Firefox dengan add-on nya kini menjadi salah satu browser yang digemari pengguna internet seluruh dunia. Hal ini terbukti dengan lebih dari 2 miliar add-on Firefox, yang telah laris diunduh.
Add-On merupakan kumpulan aplikasi dalam browser Fi
Mozilla Firefox merupakan salah satu browser paling populer di Indonesia, dengan pangsa pasar mencapai 70 persen. Apa strategi Mozilla dalam mempertahankan eksistensinya?
Bertempat di Intercontinental Hotel, berkesempatan berbincang dengan